Minggu, 01 Mei 2011

Pengaruh Pertukangan Cina pada Bangunan Mesjid Kuno di Jawa

Mesjid Mantingan (1559), Jepara

“Mesjid Mantinan didirkan dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok , dan demikian juga dengan undak-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bangunan atap termasuk bubungan adalah gaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru. Sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari-penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua. Pengawas pekerjaan baik di Welahan maupun Mantingan tidak lain adalah babah Liem Mo Han” (Pramudya Ananta Toer – Arus Balik)

Bentuk mesjid Mantingan juga merupakan tipologi mesjid kuno Jawa (seperti konstruksi atap yang menggunakan sokoguru, atapnya bersusun tiga, adanya serambi didepan, denah yang berbentuk segi empat dsb.nya). Mesjid ini didirikan pada th. 1559 pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Th 1559 sesuai dengan ‘condro sengkolo’yang diketemukan di daerah mihrabnya.

Bukti naskah sejarah lokal, maupun sejarah tutur tentang arsitektur mesjid Mantingan dan keterlibatan pertukangan Cina cukup banyak. Mengapa hal ini jarang diungkapkan? Sejarah adalah sebuah interpretasi atas peristiwa masa lampau. Kalau latar belakang si penafsir berbeda maka hasil interpretasinya pun bisa berbeda. Malah dikatakan bahwa sejarah selalu ditulis oleh pihak yang menang. Itulah sebabnya Graaf (1985) menganjurkan ada penulisan sejarah Jawa dari sudut pandang ‘pesisir’ bukan hanya dari sudut pandang ‘pedalaman’ saja. Dalam hal ini Graaf (1995:301-304) menunjukkan adanya peperangan antara daerah pesisir dan pedalaman pada sepanjang abad ke 17, yang akhirnya dimenangkan oleh kerajaan Mataram dari daerah pedalaman

Ukiran pada dinding mesjid yang terbuat dari batu padas kuning jelas bermotif Cina, merupakan salah satu bukti adanya campur tangan pertukangan Cina di mesjid ini. Bahkan R.A. Kartini (pahlawan wanita nasional yang asal Jepara) pernah menulis dalam kumpulan catatannya (Kartini, Door duisternis), mengatakan bahwa dia pernah mengunjungi tempat permakaman Sultan Mantingan (Pangeran Hadliri), dimana di dalamnya banyak terdapat ukir-ukiran dan serta rumah-rumahan yang bercorak Cina (Graaf, 1985:131).

Tokoh pertukangan kayu yang berperan besar di daerah Jepara adalah Tjie Wie Gwan. Menurut cerita tutur setempat makam Tjie Wie Gwan terletak diantara makam pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat. Bahkan ukir-ukiran kayu yang indah bergaya Cina di makam dalam komplek mesjid Mantingan tersebut diperkirakan orang setempat sebagai karya Tjie Wie Gwan, karena ia meninggal bertahun-tahun kemudian setelah meninggalnya Ratu Kalinyamat. (Qurtuby, 2003:137).

Tidak seperti halnya keahlian dalam membuat keramik, orang Cina lebih rajin menurunkan ilmunya kepada tukang tukang kayu setempat. Seperti dugaan Graaf (1985:133), bahwa pembuatan perabot serta ukiran ukiran kayu Jepara yang halus ini berasal dari orang orang Cina abad 15 dan 16 yang lampau.

Tjie Wie Gwan, yang menurut sejarah tutur di Jepara merupakan seorang Muslim China yang ahli dalam pertukangan kayu dan seni ukir pada masa Ratu Kalinyamat (abad ke 16). Tjie Wie Gwan dijuluki sebagai Sungging Badar Duwung (ahli pemahat batu). Makam Tjie Wie Gwan terdapat diantara makam Sultan Hadliri dan Ratu Kalinyamat (penguasa Jepara abad ke 16). Berkembangnya seni ukir Jepara ini tidak luput dari jasa Tjie Wie Gwan (Qurtuby, 2003: 137). Lihat juga Graaf (1985:133), tentang pengaruh pertukangan China terhadap ukiran-ukiran Jepara, sampai abad ke 20.

Sumber: Mesjid: Demak-Kudus-Jepara (Ismudiyanto, Parmono Atmadi) Gambar 13. Letak mesjid Mantingan tidak jauh dari kota Jepara.

Gambar 14. ukiran diatas batu padas kuning di mesjid Mantingan yang bercorak Cina, dengan gambar teratai. Tampak pada silhouete ukiran tersebut gambar gajah..

Gambar15. Denah komplek mesjid Mantingan dengan makam Ratu Kalinyamat dan Suaminya Pangeran Hadliri, yang terletak diatas perbukitan dipinggir jalan desa Mantingan yang menuju kearah kota Kudus. Di depan komplek mesjid tersebut terdapat sebuah kolam (yang konon dulu terdapat banyak sekali kura-kura jinak disana) dan sebuah pohon beringin

0 komentar:

Poskan Komentar

komen yang membangun jangan memfitnah, menghasud, atau yg mengadudomba, mengkritik pedas